Terbebas dari material merupakan jalan untuk menikmati hidup dan menemukan kedamaian ditengah kehidupan modern saat ini.
Minggu, Desember 23, 2018
Selasa, Desember 18, 2018
4 kunci Membangun Karakter Milenial
Generasi Y atau biasa disebut generasi Milenial adalah generasi yang lahir di antara tahun 1980an hingga 2000an. Dengan kata lain, saat ini usia mereka berada di pertengahan 20 tahun dan 30 tahun. Menurut Baappenas pada 2018, jumlah generasi milenial di Indonesia mencapai 90 juta orang.
Generasi milenial akan memegang kendali peradaban dunia menggantikan generasi baby boomers selanjutnya. Oleh karena itu, pembentukan karakter diperlukan untuk menguatkan generasi ini dalam menghadapi era yang merambah industri 4.0.
Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) Muhadjir Effendy mengatakan, "untuk mempersiapkan generasi milenial menghadapi tantangan ke depan, yang terpenting adalah menata karakter. Selain itu, diperlukan juga memberi kemampuan adaptasi serta memiliki pondasi yang kuat sehingga setiap mengalami perubahan tidak akan kehilangan arah."
Well, Berikut 4 kunci membangun karakter milenial.
1. Tentukan Tujuan
![]() |
| Source: Amariferha's Blog |
Kapal tanpa ada nahkoda akan berakhir dengan kapal yang terdampar di sebuah tempat terasing atau kemungkinan terburuknya adalah kapal akan tenggelam ke dasar laut.
Maka tentukanlah tujuan (goals) kehidupan. Ada banyak prinsip dalam menentukan tujuan. Mulailah dari hal yang sederhana. Kamu bisa merancangnya dengan hal yang spesifik dan yakin bahwa kamu bisa melaksanakannya.
2. Maksimalkan Teknologi
![]() |
| Source: Medhyhidayat.com |
Sebagai generasi milenial, kamu harus mampu menggunakan teknologi dengan bijak. Kamu harus mengembangkan sikap kreatif dan inovatif yang dapat ditunjang berkat teknologi termutakhir saat ini.
Pelajarilah banyak hal baru karena teknologi berkembang setiap detiknya.
3. Hemat
![]() |
| Source: membuat.info |
Mulai saat ini, cobalah untuk mengubah mindset kita ke arah yang lebih produktif. Belajarlah untuk mengatur keuangan. Menabung adalah hal yang lebih baik untuk dilakukan.
Jangan pernah menyia-nyiakan masa muda apalagi hanya untuk mengejar hal yang sebetulnya tidak kita butuhkan. Pertimbangkanlah banyak hal ketika ingin membeli barang. Pelajari juga prinsip dasar keuangan agar kamu paham kebutuhan mana yang layak untuk diperjuangkan.
Dengan mengatur keuangan, kamu dapat mempersiapkan masa depan yang lebih baik.
4. Hidup bersosial
![]() |
| Source: Inspiratifnews.com |
Pada dasarnya manusia tidak bisa hidup Sendiri. Kita hidup dengan berinteraksi.
We cannot not communicate.
Hidup di era digital adalah hidup dalam dunia maya. Kita dipermudah untuk melakukan komunikasi lewat jejaring sosial. Kapan pun dan dimana pun kita bisa berinteraksi dengan mudah bahkan hanya dengan handphone yang tersambung koneksi internet. Namun hal tersebut jangan sampai membuat kita acuh terhadap kehidupan nyata.
Kita perlu menyapa dan memberikan senyuman kepada orang lain. Hindari menjadi orang yang sibuk dengan gadget saat berada dalam kelompok atau suatu perkumpulan. Perlu diingat juga bahwa kamu harus punya batasan dalam hidup bersosial. Peganglah prinsipmu kemanapun kamu pergi.
Generasi milenial akan memegang kendali peradaban dunia. Kita mesti pandai bersyukur, belajar, dan berdoa. Semoga 4 kunci membangun karakter ini bisa bermanfaat dan mengubah hidupmu.
Salam Salam!
Jumat, Februari 09, 2018
CERPEN: Jam Saku Rini (Bag. 2)
Ia terbangun dari tidurnya. Padahal jarum jam baru
menunjuk pukul dua dini hari tapi itulah yang menjadi kebiasaannya. Bersujud
menghadap tuhan dan berdoa disaat yang lain larut di alam mimpi. Wanita itu
mengerjakan semuanya sendirian. Menjadi ibu rumah tangga dan bekerja banting
tulang hanya untuk memenuhi kebutuhan hidup keluarga kecilnya. Beban hidup yang
ditanggungnya ini karena suaminya sudah tiada. Meninggalkannya bersama seorang
anak. Bahkan tangisan anaknya itu membanjiri lantai rumah tepat tiga tahun yang
lalu. Membuat wanita ini ikut larut dalam kesedihan setiap waktu.
“Andai ayah masih ada, pasti tidak akan seperti hari ini.
Dunia seperti gelap gulita. Membosankan,” Rini selalu saja bergumam. Namun ia
tak lagi jadi seorang penangis sekarang. Itu terjadi sejak Ia bertemu teman masa kecilnya di
SMA, satu-satunya teman yang mau mendengarkan kisah pilu keluarganya.
Adzan maghrib sudah berkumandang. Itu pertanda bahwa jam kerja
Rini dan Ibunya sudah dimulai. Ibu Dinda sedang duduk, kedua tanganya sibuk
merias wajah. Satu tangan memegang alat, tangan lainnya membantu. Sedangkan
Rini masih saja bergumam dan berbicara dengan cermin. Jika saja cermin itu hidup, Ia pasti akan menutup kuping mendengarkan keluhan Rini setiap hari. Meski begitu Rini
berharap malam ini adalah malam yang indah.
Tak lama berselang, Rini bangkit menyusul langkah ibunya. Tak lupa ia membawa
topeng yang setia menemani setiap pertunjukannya. Topeng berwajah ceria,
berwarna putih dengan tirus khas yang membentuk wajahnya. Topeng adalah benda wajib yang
harus dikenakan Rini agar tidak ada hal buruk yang pernah terjadi.
Malam itu bulan bersinar dengan terangnya. Disana bintang-gemintang
yang gemerlapan menghiasi angkasa. Alunan musik dangdut dimainkan,
membentuk suatu lukisan yang harmonis. Penonton bertepuk tangan saat musik itu
berhenti. Dari sisi kanan panggung, Bu Dinda bersama rekannya maju ke atas
panggung dan memberikan salam penghormatan kepada penonton yang rata-rata
adalah para pemuda dan bapak-bapak. Alunan musik mulai kembali terdengar cukup
lambat, kini dua orang penari sedang menunjukkan kebolehannya. Semua bergerak
mengikuti irama musik. Ketipung berpadu dengan lambaian lembut tangan
para penari.
Seorang gadis berkulit putih terbalut kemben menaiki anak
tangga, melangkah penuh keyakinan. Lemah gemulai bergerak, tetap anggun
meski Ia menari mengenakan topeng. Gerakannya begitu luwes, menari kesana
kemari. Mundur, lalu berputar, maju, kemudian sedikit membungkuk, menciptakan
gerakan indah penari ulung.
Wanita – wanita bersolek memakai kemben diatas panggung.
Wajahnya terpoles make up tebal, bibirnya merah merekah, terkecuali sang penari
bertopeng. Gemulainya lekuk tubuh mereka menari.
Penonton kembali bertepuk tangan disertai dengan sorak-sorai
tanda kepuasan. Sampai seorang penonton maju dan naik ke atas panggung,
menggoda penari sambil memegang uang di tangan kirinya. Ia kini mendekati Rini,
menari bersama mengikuti irama. Hal ini memberikan rasa cemas bagi Rini.
Meskipun Rini mendapatkan ruang panggung untuk menari, tapi resah tetap masih
miliknya.
Laki – laki tua bau kencur itu terus mendekati Rini. Tiba –
tiba tangannya mulai nakal menyentuh kulit Rini dengan kasar. Ketika tiba-tiba
pria tersebut menyentuh topeng yang menyembunyikan wajah cantik Rini, spontan
tangan penari itu melayang tepat mendarat di pipi laki laki bau kencur. Semua
orang terkejut melihatnya. Namun suara ketipung masih saja bertalu-talu. Tidak
menunggu lama Rini pun segera beranjak pergi meninggalkan kerumunan.
Di belakang pintu kamar Rini menerawang jauh. Mengingat
kejadian yang baru saja terjadi. Tak pernah terlintas sedikitpun di pikiran
untuk memukul siapapun tapi, laki-laki tadi sangat menyebalkan. Ia sedih dan
melamun lama sekali. Menyadari bahwa dunia di sekitarnya lambat laun semakin
berubah. Menerima kenyataan bahwa Rini hidup di lingkungan yang tidak mengenal
etika dan moral, terlebih lagi mereka selalu merendahkan sosok seorang
wanita.
Rini dan sunyi berebut diam. Berhari-hari Rini mengurung
diri di kamar, takut laki-laki bau kencur di pertunjukkan kemarin menghampirinya.
Sekedar menggoda atau balas dendam. Itupun kalau hanya laki laki bau kencur itu
yang datang. Bisa saja semua laki laki di desa datang menghampiri Rini setelah
melihat pesona wajah cantiknya malam itu.
Rini mencoba meyakinkan diri bahwa hal yang lebih buruk dari
malam itu tidak akan terjadi. Hingga akhirnya Ia memilih untuk pergi.
Keputusannya sudah bulat. Dengan berat hati ia meninggalkan rumah tanpa
sepengetahuan Ibunda. Ia ingin pergi kemana pun asal bisa merasa aman. Hal
terpenting saat ini adalah terus melangkah menuju rumah Aldo. Ia adalah teman
dekat Rini sejak masih kecil. Rini menaruh harapan pada Aldo. Ia adalah pria
dewasa yang nyaris sempurna. Pria yang selama ini melindungi Rini
dan membagi kisah bersama.
Rini berlari secepat angin. Menutupi dirinya dengan kain dan
bersembunyi setiap ada kerumunan, lalu berlari lagi. Rini seperti membenci
dunia sekarang. Sudut pandangnya mulai berubah sejak kepergian sang ayah. Ia
hanya meninggalkan secuil kertas di atas meja kamarnya, mengaku ingin pergi dari
desa sejenak untuk menjauh dari masyarakat desa yang sungguh menyedihkan.
Seketika ingatannya kini kembali terbang saat melihat jam saku warisan ayahnya
di genggaman tangan. Kepada penunjuk waktu itu Rini selalu menceritakan
lika-liku hidupnya seolah ia berbicara langsung dengan ayah. Ia masih berlari.
semakin jauh dari desa.
Alasan saya posting cerita ini (klik)
source image: @glenr
Kamis, Februari 08, 2018
CERPEN: Jam Saku Rini (Bag. 1)
“Apa-apaan sih anak itu selalu saja memamerkan barang
barunya. Dia pikir aku tidak jengkel? Dasar anak manja,” seru batin
Rini sambil menutup keras jendela kamar yang kemudian membuatnya harus
memejamkan mata sebentar karena terkena debu-debu tipis. Rini memang
selalu iri dengan tetangga di samping rumahnya. Mereka adalah orang kaya yang
mampu membeli semua barang yang mereka inginkan. Tidak seperti Rini, terlahir
sebagai anak dari seorang wanita tua dengan kondisi ekonomi yang kurang. Tapi
Rini tahu bahwa semua ini adalah bagian dari takdir Tuhan. Takdir yang
menurutnya selalu bisa diubah.
Sore ini Rini tidak bersemangat untuk melakukan apapun. Ia
hanya ingin pergi ke suatu tempat yaitu rumah pohon. Rumah pohon di belakang
rumahnya selalu bisa menjadi tempat yang sejuk bagi Rini. Kadang juga menjadi
tempat Rini untuk melepas penat dan lelah menjalani kehidupan di tengah
keributan yang berulang.
Barusan hujan deras turun membasahi desa. Rini melangkah
dengan hati-hati, menginjak batu krikil yang bersih dari tanah berlumpur. Lalu
berhenti sejenak, mengalihkan mata untuk melihat ke arah langit. Ternyata senja
sudah datang. Langit yang tadinya tertutup awan , kini terlihat kemerahan. Rini
duduk di sebuah batu besar, Ia merogoh saku celananya, mengambil jam saku tua
yang masih menkilap, lengkap dengan rantai emas. Sepertinya Rini sangat merawat
jam saku miliknya itu.
Saat itu Rini sekolah paud tidak jauh
dari rumahnya. Ayahnya selalu menjemput Rini tepat waktu. Duduk di satu kursi
sambil menghabiskan sebatang rokok yang terselip di bibirnya. Ketika Rini
melihat ayahnya, ia pasti berlari lalu memeluk ayahnya cepat-cepat. Ayahnya
dengan spontan membuang batang rokok dan merapihkan topi, lalu menerima pelukan
hangat dari buah hatinya. Mereka pulang ke rumah dengan berjalan kaki dan
biasanya Rini senang duduk di pundak ayahnya.
Dalam perjalanan Rini menanyakan banyak
hal, tentang kenapa daun warnanya hijau, kenapa air bisa menghilangkan dahaga,
sampai mereka menertawakan mengapa ada orang gila yang selalu duduk di
persimpangan jalan dekat sekolahnya. Meskipun begitu ayahnya selalu menjawab
pertanyaan Rini dengan sabar dan sedikit bergurau. Tanpa terasa
mereka sudah berada di halaman rumah, mereka sampai lebih cepat dari
biasanya tapi, tidak langsung masuk ke rumah. Ayahnya mengajak Rini naik ke
rumah pohon yang sudah dibangun sejak Rini masih di dalam kandungan ibunya.
Rumah pohon yang sengaja dibuat sang ayah untuk bermain bersama anak-anaknya
nanti.
Rini bercerita panjang tentang tugas
menggambarnya di sekolah dan mendapatkan nilai terbaik diantara teman-temannya.
Sambil mengayun-ayunkan kaki, mereka duduk di tepi rumah pohon. Langit biru sangat
cerah, angin lembut menepis wajah mereka, sejauh mata memandang hanya
pemandangan sawah luas tidak bertepi. Setelah selesai bercerita Rini berpaling
memperhatikan dua burung yang saling berkejaran. Ayahnya menghela nafas,
tersenyum, lalu memberikan sebuah kotak kecil untuk Rini.
“Hayo tebak apa yang ada di dalam kotak ini?” tanya ayah
sambil menggoyangkan kotak.
“Aku tau! Itu pasti boneka!” jawab Rini dengan wajah polos.
“Hahaha, kamu salah. Yang ada di dalam kotak ini adalaaaah..
taraaa! Ini adalah jam saku. Ini ayah berikan agar Rini ingat bahwa dalam hidup
kita punya waktu yang terbatas. Satu detik saja terlewat tidak akan bisa
kembali lagi. Nah maka dari itu gunakan waktu untuk hal yang bermanfaat yaa. Misalnya
menolong orang lain tanpa memandang siapa pun dia. Mulailah dari orang yang ada
di dekat Rini ya! Kamu ingat terus oke?”
“Baik, ayah. Terima kasih yaa. Rini suka jamnyaaa,” Rini
tersenyum lebar, lompat-lompat riang hingga lupa bahwa ia sedang berada di
rumah pohon.
Sekarang semua tinggal kenangan. Rini sudah lulus SMA tahun
lalu. Walaupun sudah menjadi gadis dewasa tapi tetap saja begitu mudah bagi
Rini untuk meneteskan air mata saat mengenang banyak hal tentang ayahnya. Rini
memutuskan untuk mengurungkan niatnya melanjutkan langkah ke rumah pohon.
Hari semakin gelap sekarang.
Bersambung...
Alasan saya posting cerita ini (klik)
source image: rebanas.com
Rabu, Februari 07, 2018
Tulisan Cerita Pendek saat SMA
![]() |
| Masa-masa SMA yang unyu. |








